Kuterjemahkan bahagiamu ketika janji kau lucuti.
Kuikuti maumu, maka itu berjanjilah untuk bahagia selepas ku pergi
sebab kebahagiaanmu adalah bahagiaku...
sekalipun bahagiamu adalah meninggalkan aku...
Assalamu'alaikum wr. wb Tulisan ini hanyalah Balada seorang Hawa yang kerap ia senandungkan bersama jiwa yang parau. Pun sekedar menembangkan beberapa lagu sendu yang tak begitu merdu, semerdu rindu-rindu yang fasih bersemedi... silahkan menikmati... NB: No Plagiat!!
it's me..
Kamis, 30 Juni 2011
Minggu, 17 Oktober 2010
Syair yang Tak Selesai
Syair yang Tak Selesai
Menudung dialog jiwamu, mengisyaratkan aku tentang luka yang mengsinggasana
Kumohon jangan hentikan lagu pemujaanmu di sepanjang liku jalan yang membenalu
meski terlalu kelu untuk bersenandung, meski terlalu curam untuk menyeberang
Dengarlah, ini bukan sekedar drama pembohongan!
Apa yang kuseduh dalam diorama persekutuan malam dengan petang
adalah rahasia hati yang tak tereja dengan lidah, tentang rasa yang mulai meraja
Dengarlah, kerinduan yang pernah berkumandang di sepanjang perjalanan, adalah kejujuran yang datang dari sini. Dari tempat yang sepi.
Aku takut, aku takut! Kalau-kalau dipersimpangan itu hanya kan kutemui satu bangku
Akh,, entahlah…
Ini belum selesai, sungguh ini belum selesai
Tapi aku tak tahu harus menitikkan ini dengan kata apa
Maka biarlah ini tak selesai, sebab aku takut menerka rahasia Tuhan
Oktober, 2010
Selasa, 28 September 2010
Masih Tentang Engkau
Masih tentang Engkau
Tentang engkau,
Ketika sunyi merengkuh matamu, lantas menatapku beku.
Dan di hatimu aku berlari-lari di selasaran senja
“Ada yang tak bisa ku tangkap”, ujarmu.
Aku malu
Masih tentang engkau,
Aku tak tahu jika ekor matamu mencari-cari lengkung senyumku
Yang tertimbun di tumpukan pilu
Dan pagi itu, suara kita beradu,
Tatapan kita bertemu, hingga bersemu wajahmu.
Lalu dahimu seolah-olah mengadu
Tentang jendela yang merindukan lengkung pelangi
Serambi KOMPAK, Desember 2009
![]() |
| Add caption |
Sabtu, 11 September 2010
Untuk Lelakiku
Untuk Lelakiku
Telah kutemui engkau dalam mimpi kala lelapmu merdu wahai lelakiku,
ketika aku berlari dan menemuimu di persimpangan -tempat biasa kau menungguku, tempat biasa aku melepas lelah- katamu
Tapi kau tak tahu, sebab aku tak tega membangunkanmu yang lelap dalam lelahnya menunggu
Maka hanya dalam mimpi aku menyapamu
Aku takut kau tak lagi sudi menunggu
Aku takut suatu saat aku berhenti berlari , tak lagi kutemukan wajahmu di persimpangan itu…
Medan, 21 Agustus 2010
Kusapa Engkau Lewat Doa
Oleh: Wahyu Wiji Astuti
Bila kau dengar desau angin diantara rimbun daun subuh
Ketika itu belaian embun rintik di tiap lembarnya, melewati tulang-tulang daun di kedua sisi yang basah
Serupa engkau yang kerap melintas di angan, mendekap dengan daun rindumu yang rambat
Kuceritakan saja tentang kesetiaan embun
Yang saban pagi tak alpa menembang lewat lembut dingin kabut
Seperti aku yang menyapamu lewat doa, yang Tuhan mendengarnya meski engkau tidak
Biarlah…
Kepada Ali
Serambi KOMPAK, April 2010
Menjawab Mimpi
Tadi aku mencoba membaca gurat-gurat wajahmu
Lewat mimpi yang katamu saban malam kau ramu
Meski riak air kadang memecah hening yang begitu bungkam
Sempat kutangkap asa yang berdenyut pada penantian
di antara bangku-bangku tunggu depan perapian
yang sewaktu-waktu bisa saja membakar ujung selimut malam,
menyulut api di penjuru kabin yang hampir pula tenggelam
Harapku, jika suatu ketika sadarmu, pada waktu yang tak berhenti berputar itu telah kau habiskan untuk mengulum rindu dalam kasip penantian
Dan jika kau tak mampu hentikan putaran, maka hentikan saja kisah di bangku tunggu yang temaram
Julurkanlah sebait asa ke dalam bara dengan tongkat, karena katanya itu bisa menguapkan rasa yang terlanjur pekat
Lalu jangan tanyakan lagi pada malam yang tak berupa,
“Kali ini harusnya mimpi apa?” sekalipun ribuan godam menohok dinding hatimu yang membiru
Kali saja, dengan itu kau tahu, ada sesak yang menyesak, di sini,
tentang lara yang belum sirna dengan kata-kata,
tentang ragu yang menjelma peluru,
entah sampai kapan…
Serambi KOMPAK, Juni 2010
Kepada Peramu Mimpi
Sembilu Sayap Rindumu
Kau kibaskan sepasang sayap rindu
Kepakanmu menggetarkan pilar-pilar keangkuhan yang lama tak dialiri aroma mesiu
Kau jemput sepi yang lama membenalu,
“Kemari, aku hangatkan pilumu di bawah sayapku,”
Dan aku terpasung dalam sayap rindu yang berbulu sembilu…
Serambi KOMPAK, Juni 2010
Langganan:
Postingan (Atom)











